SALAH SANGKA
Cerpen : Cermin Kehidupan
Penulis : IMANU FAIZAL AMRI
Kisah
dua saudara kembar yang terlahir dari keluarga
yang hanya berkecukupan, mereka bernama Fadil dan Fadli. Bapaknya setiap
hari banting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Dia hanya bekerja
serabutan, kadang jadi buruh tani, kadang juga membantu merawat hewan ternak,
dan lain sebagai. Sejak kecil Fadil dan Fadli sangat kompak dalam hal bermain, mereka selalu
bersama – sama layaknya Upin dan Ipin. Namun saat usia mereka menginjak dewasa,
mereka tak lagi seperti dulu. Mereka jarang bercanda akrab, dan jarang membantu
satu sama lain. Suatu ketika si Fadil bosan dengan kehidupan yang monoton dalam
kekurang. Ia ingin ikut temannya merantau ke luar kota.
“Bu,
Pak, … rencananya Fadil mau merantau sama temen Fadil”
“Kemana
Nak?” Tanya Ibu kaget
“Nda tahu lah Bu, apa kata nanti aja. Dalam
dua hari ini Aku akan berkemas – kemas”
“Lho
di sini juga banyak pekerjaan, Dil…” ujar Ayah dengan Tegas
“Di
sini menurut Fadil kurang memuaskan pekerjaannya, Pak”
“Hey..kurang
memuaskan gimana maksudnya?!, apa karena upah yang sedikit?” Tanya Bapak
“Mmmm….
Ya begitulah Pak” jawabnya tertunduk ragu.
“Emangnya
kamu punya uang untuk berangkat?” Tanya Ibu
“Ada
sih Bu. Sedikit uang yang sempat Fadil tabung
dari hasil bekerja 2 minggu lalu” Jawab Fadil pelan. “Pak, Bu … Fadil mohon
izin ya…” Pinta Fadil
“Gimana
Pak?” Tanya Ibu kepada Bapak
“(menarik
napas pelan) ya udah, mau bagaimana lagi, kalau emang bener – bener mau bekerja
Bapak izinkan” jawabnya dengan ragu. “Tapi ingat, Dil…bekerjalah dengan baik di
sana, cari kerjaan yang halal jaga kesehatan dan selalu kabari yang di rumah.”
Pesan Bapak
“Jadi,
Bapak ngizinin?”
“Iya,
Dil…” jawab Bapak dengan senyuman penuh harap. “Gimana, Bu?” Tanya Bapak
meminta persetujuan Ibu.
“Ya
sudahlah, Ibu juga izinin.Tapi ingat pesan Bapak, Nak” jawab Ibu dengan mata
yang berkaca – kaca.
Fadil
merasa senang mendengar persetujuan kedua orang tuanya itu. Dia tersenyum
bahagia dan sungkem kepada Bapak Ibunya, Ia berterimakasih karena sudah di
izinkan untuk merantau.
“Terus
kapan kamu berangkat, Nak?” Tanya ibu kepada Fadil.
“Rencananya
3 hari lagi, Bu” jawabnya
Di
keluarganya, Fadil merupakan pertama. Dia suka bergaul dengan teman sebayanya,
namun terkadang dia tidak pulang ke rumah, dia menginap di rumah temannya. Lain
halnya si Fadli, dia lebih senang di rumah, membaca, atau mengerjakan pekerjaan
rumah, terkadang ia ke sawah membantu Bapaknya.
Pagi
– pagi sekali, ketika hari yang telah ditentukan tiba, Fadil berkemas – kemas.
Fadli terkejut melihat kakaknya yang sedang mengemasi barang dalam tas.
“Mas,
mau kemana?” Tanya Fadli
“Emangnya
kamu belum tahu ya, pas kemaren Mas sama Bapak dan Ibu ngobrol..?”
“ya
enggak lah…. Orang aku lagi di belakang, motongin kayu. Emang mau kemana Mas?”
Tanya Fadli semakin penasaran.
“Mas,
mau merantau.” jawabnya
“O….”
sahut Fadli jutek
“Lha…??
Gitu doang? Hmmm…dasar” kata Fadil membalas kejutekannya
Fadli
mempalingkan badan dan pergi meningglkan kakaknya. Ia melanjutkan
pekejaannya. Memang sekarang keduanya tidak
begitu seakur dulu. Mereka ngobrol seperlunya saja, dan tanya sekadarnya saja.
Fadil pun melanjutkan berkemas – kemas. Mengingat sebentar lagi teman –
temannya dating menjemputnya.
Tak
begitu lama teman Fadil datang, membawa semua perlengkapan dan koper. Pokoknya
seperti orang yang mau pindahan saja.
“Assalamu’alaikum….Dil,
Fadil…? Ayo berangkat..!” Seru teman - temannya
“Wa’alaikumsalam…., ehh.. Nak
Drajat. Udah pada siap toh …” Sapa Bapak
“Dil….Dil…. Ni temenmu udah
datang….”
“Iya Pak,.. .Ibu mana?”
“Di dalam mungkin…. Di kamar….”
Jawab Bapak
Tiba – tiba Ibu datang, dia dari
warung tetangga sebalah, Ibu merasa sedih melihat Fadil membawa koper dan tas
ransel, dan beberapa teman – temannya yang sudah siap berangkat. Ibu hanya
menatap kosong kepada Fadil, dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
“Fadil beragkat ya Bu…?” Fadil pun
merasa sedih pula melihat Ibunya menangis, dia memeluk Ibunya.
“Hati – hati ya Nak, jaga dirimu
baik – baik…” kata ibu sambil mendo’akan Fadil
Fadli keluar, dan melihat kakaknya
udah melangkah jauh dari rumahnya. Dalam hatinya dia merasa kesepian juga, sedih.
“Masmu mau pergi merantau, Dli.
Do’ain Masmu, biar dia baik – baik di perantauan” Ibu menasehati Fadli. “ Dan
kamu di rumah saja, bantu Bapak dan Ibu.” pinta Ibu
Fadli hanya tertegun mendengar
nasihat Ibunya, dia tidak mengatakan sesuatu.
Sebulan
berlalu, belum juga ada kabar dari Fadil dan teman – temannya. Bapak dan Ibu
sangat khawatir, tiap malam Ibu serasa gelisah. Kedua orang tuanya selalu
mendo’akan Fadil.
“Bu, sepi juga ya nda ada Mas Fadil…
kenapa nda ngasih kabar ya Bu..? Tanya Fadli
“Entahlah Dli. Tumben kamu ngomong
gitu, biasanya kalau ada Mas Fadil, kamu malah jutek, terkadang bertengkar lagi..” Ibu merasa heran dengan
pertnyaan Fadli
“Iya Bu, kayaknya ada yang beda
kalau nda ada Mas Fadil. Mungkin ini naluri anak kembar kali ya Bu.” Kata Fadli. Ibu hanya tersenyum
mendengar perkataan Fadli itu. Ibu masuk, dan menyiapkan makan siang. Di dapur
Ibu masih saja memikirkan Fadil. Saat sedang memotong memtong kacang panjang,
tangan Ibu tersayat pisau. Ibu lebih merasa tidak nyaman lagi, dia takut
terjadi apa – apa dengan Fadil.
“Lho… Bu kok jarinya berdarah, hati – hati Bu kalau pegang
pisau. Tajem itu” Bapak terkejut melihat Ibu sedang membersihkan lukanya.
“Kayanya ada yang aneh Pak..” kata
Ibu khawatir
“Emang ada apa Bu?”
“Ibu takut ada apa – apa dengan
Fadil” Ibu seperti orang yang kebingungan, dia tidak melanjutkan masaknya. Dia
ke kamar mandi, mengambil air wudlu dan melaksanaka sholat dzuhur, selesai
sholat, dia menangis, ia berdo’a untuk keselamatan Fadil. Bapak mengintip di depan
pintu. Melihat Ibu yang dipenuhi dengan kekhawatiran. Fadli datang, saat Bapak
sedang mengintip.
“Pak….(sedikit keras, menyentuh
pundaknya). Lagi apa Pak….? Tanya Fadli yang sempat mengkagetkan Bapak.
“Ssssttt…. Kamu itu, berisik tahu,…
lihat tuh Ibu. Dari tadi nangis terus. Kayaknya dia khawatir dengan Fadil” Kata
Bapak. Fadli ikut – ikutan mengintip. “kasihan Ibu ya, Pak. Mikirin Mas Fadil
terus. Mana dia nda ngabari.” kata Fadli prihatin.
Sementara di rumah sedang khawatir
dengan Fadil. Fadil di perantauan ternyata tidak benar – benar bekerja. Dia
terjebak dengan pergaulan di kota. Dia lebih “anarkis”, sering minum – minuman keras, merampok,
mencuri, judi, terkadang meminta jatah preman di pedagang - pedagang pinggir jalan. Sampai suatu ketika
ada salah seorang warga melaporkan Fadil dan teman – temannya ke kantor Polisi.
Dan sekarang Fadil menjadi buronan.
“Ok…guys… pasang taruhan lagi. Pokoknya malam
ini kita begadang…ha…ha…ha.” Ajak Fadil
yang sedang berjudi di ‘basecamp’-nya. Sebuah rumah tua yang kosong, tengah
sawah, di pedesaan.
“Ok….” Sahut teman – temannya.
Rupanya polisi sudah mengetahui
markas preman itu. Tiba – tiba suara sirine polisi terdengar dari kejauhan,
salah seorang teman Fadil langsung lari. Sebelum polisi lebih dekat.
“Polisi…..!!!” kata salah seorang
teman, panik lari kocar – kacir. Diikuti dengan yang lainnya.
Seorang polisi melepaskan pelurunya
ke udara.
“doorrr… door…!!” suara letupan
peluru pistol. Sementara Fadil dan yang lainnya lari ke pekarangan warga.
Polisi semakin dekat. Mereka lari tak tentu arah, yang mereka pikirkan hanyalah
lolos dari kejaran polisi.
Warga setempat pun terbangun dari tidur
lelapnya, kaget dengan suara rebut – rebut di luar. Sekitar setengah jam
terjadi kejar – kejaran antara polisi dengan preman, namun usaha polisi gagal.
Buronan lolos. Entah kemana mereka pergi.
Pagi harinya, Fadil dan 2 temannya
kebingungan, karena teman yang lain entah kemana. Kini tinggal tiga orang yang
tersisa dari sepuluh orang.
“Wahh… ini gawat Dil… tinggal kita
bertiga. Mana yang lain?” Tanya Bejo
ketakutan, salah seorang teman Fadil. “hey… kamu jangan khawatir Jo, kau
tahukan, bagaimana geng kita…? Semua jago melarikan diri. Polisi yang hanya berlari
itu, cemen…! Tepat banget kita cari daerah yang sulit di jangkau kendaraan”
kata Fadil dengan PD-nya.
Tingkah laku Fadil semakin hari
semakin parah saja, dia benar – benar jadi buronan. Banyak foto Fadil yang
terpampang di jalan bertuliskan “BURONAN”. Fadil semakin hati – hati, dia tidak
ingin tertangkap. Dia pun berencana meninggalkan kota yang sudah tidak aman
lagi. Dia dan 2 temannya berencana pergi ke kota lain. Dengan menggunakan
penyamaran, mereka melenggang santai, tanpa di kenali orang lain.
Di rumah semakin khawatir saja,
sampai – sampai Fadli nekad ke kota mencari kakaknya, dia tahu bahwa kakaknya
pergi ke Jakarta, karena sebelumnya dia bertanya sama teman Fadil. Dia pergi.
Dengan uang yang pas – pasan dia sempat jual baju gantinya, untuk bertahan hidup.
Sampai di pertengahan kota, dia melihat foto mirip dirinya sendiri, di
sepanjang jalan dengan bertuliskan “BURONAN”. Seketika muka Fadli pucat, dia
berpikir jangan - jangan memang kakaknya sendiri. Dan Fadli pun dalam bahaya,
karena wajahnya kembar dengan kakaknya.
“Aduhh….Aku salah tempat atau salah
waktu. ..?” tangan Fadli bergetar memegang foto yang ada di depannya. “Apa
sebenarnya yag terjadi dengan Mas Fadil?” , “ Jika Mas Fadil memang benar
buronan polisi, bearti Aku pun iya… karena Aku adalah dia. Dan masyarakat di
sini mengira bawah Aku adalah Mas Fadil (Preman kota)” dalam hatinya bergumam.
Fadli bingung apa yang harus dia lakukan. Dia serasa dalam ruang sempit yang
tidak berpintu, dan dia tidak bisa kemana – mana lagi. Segera, dia berbalik arah
meninggalkan pusat kota. Saat melewati sebuah Ruko, salah seorang warga
melihatnya.
“Wahh… itu preman yang sampai
sekarang jadi buronan.” Salah seorang warga menunjuk Fadli yang berjalan
tergesa – gesa.
“ Iya tuh… kita tangkap dia dan bawa
ke kantor polisi” sahut warga yang lain.
“Kejar…!!” teriak warga.
Dengan cepat Fadli lari pontang –
panting, dia tidak bisa minta bantuan kepada orang lain. Dia hanya berserah
diri kepada Tuhan dengan usahanya meloloskan diri dari kejaran warga. Karena
paniknya dia salah langkah, dia masuk ke gang kecil yang buntu. Dia melihat
sekeliling. Hanya ada tong sampah ukuran besar. Dia melihat ke atas, hanya ada
tembok datar tinggi dengan satu helai tali jemuran. Dia mencoba menggapai tali
itu, untuk memanjatnya, namun usahanya gagal. Warga pun mengepung. Fadli tidak
berdaya.
Fadli dibawa warga ke kantor polisi
dengan wajah yang sudah babak belur. Dia dimintai keterangan. Namun jawabnya
selalu “Tidak Tahu”, itu memancing emosi warga. Ruangan menjadi rame.
“hey… apa tidak ada jawaban lain,
selain “tidak tahu”.. hahh..” bentak warga, sambil ‘menonyol’ kepalanya.
“Bunnuuhh saja….bunuh.. dia sudah
meresahkan warga selama ini..!!” sambung warga lainnya.
“duuuaaarrrr…..(suara benturan
tongkat Satpam). Tenanggg…!!!” Satpam pabrik yang berusaha menenangkan warga.
Fadli hanya mendengar amarah warga,
dan keributan – keributan di sekitarnya. Dia diam saja, dengan mulutnya komat – kamit berdo’a. Kini hanya ada satu
pertolongan, yaitu pertolongan Tuhan.
Suasana mulai tenang.
“Pak, boleh Saya bicara sekarang..?”
pinta Fadli.
“ Iya silakan…” Pak polisi
mengizinkan.
“ Sebenernya yang ada di foto ini
ada masalah apa? Saya datang kesini
mencari saudara saya. Saya bener nda tahu apa – apa tentang apa yang
dibicarakan kalian semua. Ini mungkin kesalahpahaman! Dan mungkin orang itu
wajahnya mirip dengan Saya” Fadli menjelaskan.
“Wualahh….
uwis salah, ngelak.. lha wong kui bener slira mu toh, dirimu, ojo mukir lah.
Koe kui wis salah..wis ngresahke warga kabeh. Pentese kui koe “blusukna” marang
penjara!!” cemo’oh orang jawa,
dengan amarah yang meluap.
“iya .. iya.. betull…betull…!!”
sahut warga lain. Suasana menjadi ramai kembali.
“Diiaaamm…!!!” bentak kepala
kepolisian. “Oke…!! Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, sementara Kami
hentikan sidang ini. Semuanya ,,, Buubbarrr,,,!!!” perintah kepala kepolisian.
“ Dan Anda saudara Fadli, sementara kami tahan, untuk introgasi lanjutan.
Fadli untuk sementara waktu di
tahan, mungkin untuk beberapa hari bahkan beberapa minggu. Mau tidak mau dia
dijebloskan ke penjara, namun statusnya masih ‘sementara’. Dia ingin menghubung
ke desa pun tidak bisa mengingat kedua orangnya tidak punya alat komunikasi.
Sungguh malang nasib kedua saudara ini. Hidupnya tidak aman karena satu
kesalahan pada Fadil. Fadil di kota yang baru pun berbuat sama, dia
mmempersiapkan segala sesuatunya.
Malam hari sekitar pukul 00.00,
mereka berangkat dari ‘bascamp’-nya membawa berbagai macam perlengkapan maling
tentunya. Sesampainya di tempat, mereka
sukses melancarkan misinya, namun kamera CCTV juga sukses merekam gerak
– gerik mereka malam itu, wajahnya terekam kamera, karena mungkin mereka lupa
tidak memakai penutup kepala. Mereka pulang dengan bangganya, mereka tidak
sadar bahwa wajah mereka terekam kamera saat membobol Bank.
“Kita sukses Bro….!? Ha..ha..ha”
kata Jurwo, salah seorang teman Fadil.
“O … y jelas…!! Siapa dulu ketua
genk ini..” dengan bangganya Fadil menambahkan.
“Yuk, kita ”Ngoplos”…” Ajak Jurwo.
“Ha…haha.. tahu aja kau, apa yang
kita mau..” kata Fadil
Malam itu semua begadang, minum –
minuman keras, dan hanya itu yang mereka lakukan setiap harinya.
Pagi harinya, mereka malah tertidur
lelap di ‘basecamp’-nya, dan polisi sudah siap dengan misi pengepungan. Saat
fajar menyingsing, para polisi sudah berada di tempat, di markas di mana para
Bandit berada.
“Klekk….klekk…” Suara tarikan
pelatuk senjata polisi
“Rumah ini sudah kami kepung..
menyerahlah, dan tiarap!!!” Polisi memberikan peringatan.
Dengan mudah polisi menangkap
belasan preman, dan di bawa ke kantor Polisi. Salah seorang polisi mengenali
wajah si Fadil, dia memperhatikannya yang sangat mirip dengan anak yang dua
minggu lalu di tahan di kantor polisi. Dan saat tiba di kantor polisi, Fadil
melihat Fadli sedang di mintai keterangan, kebetulan mereka masuk kantor polisi
yang sama. Fadil terkejut, begitu pun dengan Fadli, lebih – lebih polisi yang
sedang memintai keterang. Semuanya tercangang melihat satu sama lain. Fadil
diam saja, tidak menyapa Fadli, dia mempalingkan wajahnya.
“Mas Fadil…?” Fadli heran, “kok Mas ada di sini…?” Tanya
Fadli.
“Kamu gak perlu tahu, kenapa Aku ada
di sini…” kata Fadil dengan muka sinis.
“Heeyy… kok gitu Mas, apa mungkin
benar, Mas itu buronan Polisi selama ini?” Tanya Fadli “to the point”. “Aku ke kota mencari Mas Fadil, dan pas di pusat
kota Aku melihat banyak foto Mas Fadil yang terpampang di jalan”
“Dan kenapa kamu bisa di sini,
Hhaahh…? Tanya Fadil suara lirih membentak.
“Aku ini dikira Mas Fadil, wajah
kita sama, dan Aku yang jadi korban kesalahpahaman. Dan Itu karena Mas Fadil”
terang Fadli. Fadli sangat marah dengan kakaknya, dia berpikir Fadil telah
menjadi kerumitan masalah keluarga selama ini.
“Aku sudah dua minggu di tahan, Aku
di mintai keterangan. Dan Aku tidak tahu apa – apa. Bapak sama Ibu mungkin
lebih khawatir Mas… sadar nda sih..? dan
apa aja yang Mas lakukan selama di perantauan, jadi preman? Iya?!!” Amarah F adli
semakin meluap, matanya memerah. Fadil
tidak terima dengan perkataan Fadli, seketika
dia menarik kerah baju Fadli dan menghajarnya sampai tersungkur. Segara para
polisi menghentikan aksi kedua saudara tersebut.
“ Jaga mulutmu, Bangsaat!!” Bentak
Fadil kepada Fadli
“Sudah, semuanya tenang!!” kata Pak
polisi, “Jadi kalian ini kembar? Mana yang Fadil dan mana yang Fadli?” Tanya
Pak polisi kebingungan.
“Sekarang Saya tahu, walau mereka
kembar tapi memiliki sedikit perbedaan. Perbedaan itu terletak di leher bagian
belakang, dan yang dua minggu lalu kita tangkap itu Fadli, karena Saya yang
memintai keterangan. Kita salah tangkap.” kata anggota polisi lainnya, yang
sangat teliti dengan nara pidananya. Suasana hening sejenak. Salah seorang
polisi mencoba melihat leher kedua saudara tersebut. Dan terbukti, terdapat
tanda lahir di lehernya Fadli dan tidak pada lehernya Fadil.
Do’a Fadli selama ini terkabul, dia
dibebaskan. Sementara Fadil, dia harus mendekam di tahanan selama kurang lebih
tujuh tahun penjara bersama teman - temannya.
Fadli
pulang dengan penuh kekecewaan, dan membawa kabar buruk. Saat mulai petang, dia
tiba di rumah, ibunya melihat Fadli dengan wajah kusam, pakaian yang kotor, dan
tidak bersepatu.
“Ya
Allah Fadli…. Kenapa denganmu, Nak? ada apa sebenarnya? Sudah dua minggu lebih
kamu tidak pulang, Ibu khawatir” Tanya Ibu sambil menangis
Fadli
masih terdiam, dan enggan untuk menceritakan yang sebenarnya. Dia langsung
mandi, meninggalkan ibunya sendirian di ruang tamu, kemudian masuk kamar. Dia
tidur untuk menenangkan pikirannya. Dan pagi harinya, dia menceritakan semua
yang terjadi yang dia alami, dan yang dia lihat dengan mata kepala sendiri.
Kedua orang tuanya ‘shock’ mendengar cerita Fadli. Kedua orang tuanya hanya
berharap lindungan Tuhan untuk Fadil. Mereka tidak bisa menjenguk, lantaran
tidak ada ongkos untuk ke kota.
Di
tahanan Fadil baru merasa sangat bersalah atas semua kelakuannya, dia melupakan
nasihat orang tuanya, dia sudah menjadikan malu keluarga, dan melibatkan
adiknya dalam kesalahpahaman. Hanya penyesalan yang ada pada dirinya. Dia terlalu
ceroboh mengambil keputusan, sampai tidak bisa mengatur emosinya. Saat di
perkotaan mencari pekerjaan, namun tidak ada satu pun lowongan kerja, dia
frustasi dan mengambil aksi nekad yaitu tindak kriminal. Kini Fadil selalu
termenung, memikirkan kedua orang tuanya, menyesali akan perbuatannya. Namun
dia sadar bahwa inilah balasan dari semuanya.
….Sekian….
...