meta charset='utf-8'/> 2014 | Im Fa Ri (124M)

Kamis, 11 Desember 2014

Cerita Humor Pengobat Galau






MALAPETAKA WARNA HIJAU

Pemerintah berencana mengganti seluruh tabung Elpiji 3 KG. Setelah melalui evaluasi yang mendalam, akhirnya ditemukan kesalahan mendasar pada desain tabung Elpiji 3 KG.
Karena itu, pemerintah melalui PT Pertamina akan mengganti seluruh tabung Elpiji 3 KG yang sudah beredar di masyarakat.
Apanya yang salah dengan desainnya tabung LPG 3 KG ?
Ternyata kesalahan terletak pada warna HIJAUnya.
Kemungkinan seluruh tabung akan dicat ulang menjadi MERAH, KUNING, atau KELABU, atau MERAH MUDA.
Seperti yang sudah diketahui sejak kita masih kanak-kanak, warna hijau itu mudah meletus.
"Meletus tabung hijau, dor! Hatiku sangat kacau. Tabungku tinggal empat. Kulempar ke pejabat !!"


HINAAN ORANG GILA

Orang Gila lagi ketawa-ketiwi sendirian dipinggir jalan. Kemudian lewatlah seorang membawa kambing buat kurban…
Orang gila : Hari genee jalan-jalan bawa Monyet…capcay deeehhhh
Orang lewat : Dasar gilaa, yang begini namanyya kambing tau, bukan monyet !!!
Orang gila : helllllooooo… pleaseeeee dueechhh gua kan ngomong sama kambing loe, bukan sama elu..

KOK BOLONG?


Tiba-tiba seorang pembeli masuk ke toko Donat dan langsung menemui pelayan.
Pembeli : “Mbak !! Mana manager toko donat ini. Saya mau komplain.”
Pelayan : (Sambil ketakutan) : “Em.. emang ada apa ya pak?”
Pembeli : “Masa, saya beli donat 10 biji, bolong semua????”
Pelayan : ***Gubrak, ngambil bata siap dilempar***
Cerita Lucu 5
Papah : “Mah… maen poli yuuuuukkkk????”
Mamah : “Ih, papah so sweet. Poli Pantai ya pah?
Papah : “Bukan mah, tapi Poligami.”
Mamah : ***ambil piso siap motong ayam***


BELL

Suatu ketika ada perlombaan cerdas cermat, bertemulah team dari Indonesia melawan Malaysia.
Juri: “Pertanyaannya terdiri dari 10 soal. Jawab dgn benar. Silakan dicoba belnya..
Malaysia: “TEET”
Indonesia: “trrreeet”
*bel-nya agak soak*
Juri: “Soal pertama, hewan apa yang haram bagi umat islam?”
Malaysia: “TEET, dinosaurus…”
Juri: “Salah!”
Indonesia mencet2 tapi bel-nya ga mau
bunyi: “Anjing, belnya mati!”
Juri: “Yap benar jawaban anjing! Soal kedua, Hewan apa yang suka dengan lumpur?”
Malaysia: “TETT, keong racun”
Juri: “Salah.”
Indonesia: “Babi lah bel punya gw ga bunyi2..”
Juri: “Iyak! Benar jawabannya Babi. Soal ketiga, warnanya kuning keluar dari manusia?”
Malaysia: “TETT,sempak ga pernah dicuci!”
Juri: “Salah!”
Indonesia: “Taik bel murahan..!”
Juri: “Wow benar sekali, jawabannya Indonesia. Soal keempat, apa nama makhluk gaib lambang kejahatan?”
Malaysia: “TEET, upin dan ipin”
Juri: “Salah!”
Indonesia: “Setanlah bel gw ga bisa bunyi”
Juri: “Benar jawabannya Setan. Soal kelima, Apa nama sebutan bagi ketidaknormalan
atau kerusakan?”
Malaysia: “TETT, Aneh”
Juri: “Salah!”
Indonesia: “Cacad Nih bel!”
Juri: “Yak! Benar jawabannya cacad.”
*soal demi soal berhasil dijawab oleh Indonesia*
Juri: “Soal terakhir, negara mana yang paling banyak menjuarai Word Cup Sepakbola?”
Malaysia: “TEET. Negara malaysia!!!”
Juri: “Salah tod!”
Indonesia: “TETT. Yes Brasil juga bel nih bunyi, asyiik..”
Juri: “Wah benar jawabannya Brazil! SKOR Malaysia: 0 SKOR INDONESIA: 10. Selamat atas
kemenangan Indonesia…”



Sabtu, 29 November 2014

Biodataku


BIODATA 

Nama       : Imanu Faizal Amri
TTL         : Brebes, 23 September 1995
Alamat     : Jl. Bulu, Bulakelor Rt 04/05, Ketanggungan - Brebes
Pekerjaan : Mahasiswa
Hobi         : Menggmbar, Membuat cerpen, bermusik, OL, jogging.
Motto       : Ada tugas, kerjakan, selesai, BEREESS!!



Selasa, 25 November 2014

Short Story


My Short Story



SALAH SANGKA
Cerpen : Cermin Kehidupan
Penulis : IMANU FAIZAL AMRI
 


Kisah dua saudara kembar yang terlahir dari keluarga  yang hanya berkecukupan, mereka bernama Fadil dan Fadli. Bapaknya setiap hari banting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Dia hanya bekerja serabutan, kadang jadi buruh tani, kadang juga membantu merawat hewan ternak, dan lain sebagai. Sejak kecil Fadil dan Fadli  sangat kompak dalam hal bermain, mereka selalu bersama – sama layaknya Upin dan Ipin. Namun saat usia mereka menginjak dewasa, mereka tak lagi seperti dulu. Mereka jarang bercanda akrab, dan jarang membantu satu sama lain. Suatu ketika si Fadil bosan dengan kehidupan yang monoton dalam kekurang. Ia ingin ikut temannya merantau ke luar kota.
“Bu, Pak, … rencananya Fadil mau merantau sama temen Fadil”
“Kemana Nak?” Tanya Ibu kaget
 “Nda tahu lah Bu, apa kata nanti aja. Dalam dua hari ini Aku akan berkemas – kemas”
“Lho di sini juga banyak pekerjaan, Dil…” ujar Ayah dengan Tegas
“Di sini menurut Fadil kurang memuaskan pekerjaannya, Pak”
“Hey..kurang memuaskan gimana maksudnya?!, apa karena upah yang sedikit?” Tanya Bapak
“Mmmm…. Ya begitulah Pak” jawabnya tertunduk ragu.
“Emangnya kamu punya uang untuk berangkat?” Tanya Ibu
“Ada sih Bu. Sedikit  uang yang sempat Fadil tabung dari hasil bekerja 2 minggu lalu” Jawab Fadil pelan. “Pak, Bu … Fadil mohon izin ya…” Pinta Fadil
“Gimana Pak?” Tanya Ibu kepada Bapak
“(menarik napas pelan) ya udah, mau bagaimana lagi, kalau emang bener – bener mau bekerja Bapak izinkan” jawabnya dengan ragu. “Tapi ingat, Dil…bekerjalah dengan baik di sana, cari kerjaan yang halal jaga kesehatan dan selalu kabari yang di rumah.” Pesan Bapak
“Jadi, Bapak ngizinin?”
“Iya, Dil…” jawab Bapak dengan senyuman penuh harap. “Gimana, Bu?” Tanya Bapak meminta persetujuan Ibu.
“Ya sudahlah, Ibu juga izinin.Tapi ingat pesan Bapak, Nak” jawab Ibu dengan mata yang berkaca – kaca.
Fadil merasa senang mendengar persetujuan kedua orang tuanya itu. Dia tersenyum bahagia dan sungkem kepada Bapak Ibunya, Ia berterimakasih karena sudah di izinkan untuk merantau.
“Terus kapan kamu berangkat, Nak?” Tanya ibu kepada Fadil.
“Rencananya 3 hari lagi, Bu” jawabnya
Di keluarganya, Fadil merupakan pertama. Dia suka bergaul dengan teman sebayanya, namun terkadang dia tidak pulang ke rumah, dia menginap di rumah temannya. Lain halnya si Fadli, dia lebih senang di rumah, membaca, atau mengerjakan pekerjaan rumah, terkadang ia ke sawah membantu Bapaknya.
Pagi – pagi sekali, ketika hari yang telah ditentukan tiba, Fadil berkemas – kemas. Fadli terkejut melihat kakaknya yang sedang mengemasi barang dalam tas.
“Mas, mau kemana?” Tanya Fadli
“Emangnya kamu belum tahu ya, pas kemaren Mas sama Bapak dan Ibu ngobrol..?”
“ya enggak lah…. Orang aku lagi di belakang, motongin kayu. Emang mau kemana Mas?” Tanya Fadli semakin penasaran.
“Mas, mau merantau.” jawabnya
“O….” sahut Fadli jutek
“Lha…?? Gitu doang? Hmmm…dasar” kata Fadil membalas kejutekannya
Fadli mempalingkan badan dan pergi meningglkan kakaknya. Ia melanjutkan pekejaannya.  Memang sekarang keduanya tidak begitu seakur dulu. Mereka ngobrol seperlunya saja, dan tanya sekadarnya saja. Fadil pun melanjutkan berkemas – kemas. Mengingat sebentar lagi teman – temannya dating menjemputnya.
Tak begitu lama teman Fadil datang, membawa semua perlengkapan dan koper. Pokoknya seperti orang yang mau pindahan saja.
“Assalamu’alaikum….Dil, Fadil…? Ayo berangkat..!” Seru teman - temannya
            “Wa’alaikumsalam…., ehh.. Nak Drajat. Udah pada siap toh …” Sapa Bapak
            “Dil….Dil…. Ni temenmu udah datang….”
            “Iya Pak,.. .Ibu mana?”
            “Di dalam mungkin…. Di kamar….” Jawab Bapak
            Tiba – tiba Ibu datang, dia dari warung tetangga sebalah, Ibu merasa sedih melihat Fadil membawa koper dan tas ransel, dan beberapa teman – temannya yang sudah siap berangkat. Ibu hanya menatap kosong kepada Fadil, dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
            “Fadil beragkat ya Bu…?” Fadil pun merasa sedih pula melihat Ibunya menangis, dia memeluk Ibunya.
            “Hati – hati ya Nak, jaga dirimu baik – baik…” kata ibu sambil mendo’akan Fadil
            Fadli keluar, dan melihat kakaknya udah melangkah jauh dari rumahnya. Dalam hatinya dia merasa kesepian juga, sedih.
            “Masmu mau pergi merantau, Dli. Do’ain Masmu, biar dia baik – baik di perantauan” Ibu menasehati Fadli. “ Dan kamu di rumah saja, bantu Bapak dan Ibu.” pinta Ibu
            Fadli hanya tertegun mendengar nasihat Ibunya, dia tidak mengatakan sesuatu.
            Sebulan berlalu, belum juga ada kabar dari Fadil dan teman – temannya. Bapak dan Ibu sangat khawatir, tiap malam Ibu serasa gelisah. Kedua orang tuanya selalu mendo’akan Fadil.
            “Bu, sepi juga ya nda ada Mas Fadil… kenapa nda ngasih kabar ya Bu..? Tanya Fadli
            “Entahlah Dli. Tumben kamu ngomong gitu, biasanya kalau ada Mas Fadil, kamu malah jutek, terkadang  bertengkar lagi..” Ibu merasa heran dengan pertnyaan Fadli
            “Iya Bu, kayaknya ada yang beda kalau nda ada Mas Fadil. Mungkin ini naluri anak kembar kali ya  Bu.” Kata Fadli. Ibu hanya tersenyum mendengar perkataan Fadli itu. Ibu masuk, dan menyiapkan makan siang. Di dapur Ibu masih saja memikirkan Fadil. Saat sedang memotong memtong kacang panjang, tangan Ibu tersayat pisau. Ibu lebih merasa tidak nyaman lagi, dia takut terjadi apa – apa dengan Fadil.
            “Lho… Bu kok  jarinya berdarah, hati – hati Bu kalau pegang pisau. Tajem itu” Bapak terkejut melihat Ibu sedang membersihkan lukanya.
            “Kayanya ada yang aneh Pak..” kata Ibu khawatir
            “Emang ada apa Bu?”
            “Ibu takut ada apa – apa dengan Fadil” Ibu seperti orang yang kebingungan, dia tidak melanjutkan masaknya. Dia ke kamar mandi, mengambil air wudlu dan melaksanaka sholat dzuhur, selesai sholat, dia menangis, ia berdo’a untuk keselamatan Fadil. Bapak mengintip di depan pintu. Melihat Ibu yang dipenuhi dengan kekhawatiran. Fadli datang, saat Bapak sedang mengintip.
            “Pak….(sedikit keras, menyentuh pundaknya). Lagi apa Pak….? Tanya Fadli yang sempat mengkagetkan Bapak.
            “Ssssttt…. Kamu itu, berisik tahu,… lihat tuh Ibu. Dari tadi nangis terus. Kayaknya dia khawatir dengan Fadil” Kata Bapak. Fadli ikut – ikutan mengintip. “kasihan Ibu ya, Pak. Mikirin Mas Fadil terus. Mana dia nda ngabari.” kata Fadli prihatin.
            Sementara di rumah sedang khawatir dengan Fadil. Fadil di perantauan ternyata tidak benar – benar bekerja. Dia terjebak dengan pergaulan di kota. Dia lebih “anarkis”,  sering minum – minuman keras, merampok, mencuri, judi, terkadang meminta jatah preman di pedagang  - pedagang pinggir jalan. Sampai suatu ketika ada salah seorang warga melaporkan Fadil dan teman – temannya ke kantor Polisi. Dan sekarang Fadil menjadi buronan.
             “Ok…guys… pasang taruhan lagi. Pokoknya malam ini kita begadang…ha…ha…ha.”  Ajak Fadil yang sedang berjudi di ‘basecamp’-nya. Sebuah rumah tua yang kosong, tengah sawah, di pedesaan.
            “Ok….” Sahut teman – temannya.
            Rupanya polisi sudah mengetahui markas preman itu. Tiba – tiba suara sirine polisi terdengar dari kejauhan, salah seorang teman Fadil langsung lari. Sebelum polisi lebih dekat.
            “Polisi…..!!!” kata salah seorang teman, panik lari kocar – kacir. Diikuti dengan yang lainnya.
            Seorang polisi melepaskan pelurunya ke udara.
            “doorrr… door…!!” suara letupan peluru pistol. Sementara Fadil dan yang lainnya lari ke pekarangan warga. Polisi semakin dekat. Mereka lari tak tentu arah, yang mereka pikirkan hanyalah lolos dari kejaran polisi.
             Warga setempat pun terbangun dari tidur lelapnya, kaget dengan suara rebut – rebut di luar. Sekitar setengah jam terjadi kejar – kejaran antara polisi dengan preman, namun usaha polisi gagal. Buronan lolos. Entah kemana mereka pergi.
            Pagi harinya, Fadil dan 2 temannya kebingungan, karena teman yang lain entah kemana. Kini tinggal tiga orang yang tersisa dari sepuluh orang.
            “Wahh… ini gawat Dil… tinggal kita bertiga. Mana yang lain?” Tanya  Bejo ketakutan, salah seorang teman Fadil. “hey… kamu jangan khawatir Jo, kau tahukan, bagaimana geng kita…? Semua jago melarikan diri. Polisi yang hanya berlari itu, cemen…! Tepat banget kita cari daerah yang sulit di jangkau kendaraan” kata Fadil dengan PD-nya.
            Tingkah laku Fadil semakin hari semakin parah saja, dia benar – benar jadi buronan. Banyak foto Fadil yang terpampang di jalan bertuliskan “BURONAN”. Fadil semakin hati – hati, dia tidak ingin tertangkap. Dia pun berencana meninggalkan kota yang sudah tidak aman lagi. Dia dan 2 temannya berencana pergi ke kota lain. Dengan menggunakan penyamaran, mereka melenggang santai, tanpa di kenali orang lain.
           
            Di rumah semakin khawatir saja, sampai – sampai Fadli nekad ke kota mencari kakaknya, dia tahu bahwa kakaknya pergi ke Jakarta, karena sebelumnya dia bertanya sama teman Fadil. Dia pergi. Dengan uang yang pas – pasan dia sempat jual baju gantinya, untuk bertahan hidup. Sampai di pertengahan kota, dia melihat foto mirip dirinya sendiri, di sepanjang jalan dengan bertuliskan “BURONAN”. Seketika muka Fadli pucat, dia berpikir jangan - jangan memang kakaknya sendiri. Dan Fadli pun dalam bahaya, karena wajahnya kembar dengan kakaknya.
            “Aduhh….Aku salah tempat atau salah waktu. ..?” tangan Fadli bergetar memegang foto yang ada di depannya. “Apa sebenarnya yag terjadi dengan Mas Fadil?” , “ Jika Mas Fadil memang benar buronan polisi, bearti Aku pun iya… karena Aku adalah dia. Dan masyarakat di sini mengira bawah Aku adalah Mas Fadil (Preman kota)” dalam hatinya bergumam. Fadli bingung apa yang harus dia lakukan. Dia serasa dalam ruang sempit yang tidak berpintu, dan dia tidak bisa kemana – mana lagi. Segera, dia berbalik arah meninggalkan pusat kota. Saat melewati sebuah Ruko, salah seorang warga melihatnya.
            “Wahh… itu preman yang sampai sekarang jadi buronan.” Salah seorang warga menunjuk Fadli yang berjalan tergesa – gesa.
            “ Iya tuh… kita tangkap dia dan bawa ke kantor polisi” sahut warga yang lain.
            “Kejar…!!” teriak warga.
            Dengan cepat Fadli lari pontang – panting, dia tidak bisa minta bantuan kepada orang lain. Dia hanya berserah diri kepada Tuhan dengan usahanya meloloskan diri dari kejaran warga. Karena paniknya dia salah langkah, dia masuk ke gang kecil yang buntu. Dia melihat sekeliling. Hanya ada tong sampah ukuran besar. Dia melihat ke atas, hanya ada tembok datar tinggi dengan satu helai tali jemuran. Dia mencoba menggapai tali itu, untuk memanjatnya, namun usahanya gagal. Warga pun mengepung. Fadli tidak berdaya.
            Fadli dibawa warga ke kantor polisi dengan wajah yang sudah babak belur. Dia dimintai keterangan. Namun jawabnya selalu “Tidak Tahu”, itu memancing emosi warga. Ruangan menjadi rame.
            “hey… apa tidak ada jawaban lain, selain “tidak tahu”.. hahh..” bentak warga, sambil ‘menonyol’ kepalanya.
            “Bunnuuhh saja….bunuh.. dia sudah meresahkan warga selama ini..!!” sambung warga lainnya.
            “duuuaaarrrr…..(suara benturan tongkat Satpam). Tenanggg…!!!” Satpam pabrik yang berusaha menenangkan warga.
            Fadli hanya mendengar amarah warga, dan keributan – keributan di sekitarnya. Dia diam saja, dengan mulutnya  komat – kamit berdo’a. Kini hanya ada satu pertolongan, yaitu pertolongan Tuhan.
            Suasana mulai tenang.
            “Pak, boleh Saya bicara sekarang..?” pinta Fadli.
            “ Iya silakan…” Pak polisi mengizinkan.
            “ Sebenernya yang ada di foto ini ada masalah apa? Saya  datang kesini mencari saudara saya. Saya bener nda tahu apa – apa tentang apa yang dibicarakan kalian semua. Ini mungkin kesalahpahaman! Dan mungkin orang itu wajahnya mirip dengan Saya” Fadli menjelaskan.
            “Wualahh…. uwis salah, ngelak.. lha wong kui bener slira mu toh, dirimu, ojo mukir lah. Koe kui wis salah..wis ngresahke warga kabeh. Pentese kui koe “blusukna” marang penjara!!” cemo’oh orang  jawa, dengan amarah yang meluap.
            “iya .. iya.. betull…betull…!!” sahut warga lain. Suasana menjadi ramai kembali.
            “Diiaaamm…!!!” bentak kepala kepolisian. “Oke…!! Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, sementara Kami hentikan sidang ini. Semuanya ,,, Buubbarrr,,,!!!” perintah kepala kepolisian. “ Dan Anda saudara Fadli, sementara kami tahan, untuk introgasi lanjutan.
            Fadli untuk sementara waktu di tahan, mungkin untuk beberapa hari bahkan beberapa minggu. Mau tidak mau dia dijebloskan ke penjara, namun statusnya masih ‘sementara’. Dia ingin menghubung ke desa pun tidak bisa mengingat kedua orangnya tidak punya alat komunikasi. Sungguh malang nasib kedua saudara ini. Hidupnya tidak aman karena satu kesalahan pada Fadil. Fadil di kota yang baru pun berbuat sama, dia mmempersiapkan segala sesuatunya.
            Malam hari sekitar pukul 00.00, mereka berangkat dari ‘bascamp’-nya membawa berbagai macam perlengkapan maling tentunya. Sesampainya di tempat, mereka  sukses melancarkan misinya, namun kamera CCTV juga sukses merekam gerak – gerik mereka malam itu, wajahnya terekam kamera, karena mungkin mereka lupa tidak memakai penutup kepala. Mereka pulang dengan bangganya, mereka tidak sadar bahwa wajah mereka terekam kamera saat membobol Bank.
            “Kita sukses Bro….!? Ha..ha..ha” kata Jurwo, salah seorang teman Fadil.
            “O … y jelas…!! Siapa dulu ketua genk ini..” dengan bangganya Fadil menambahkan.
            “Yuk, kita ”Ngoplos”…” Ajak Jurwo.
            “Ha…haha.. tahu aja kau, apa yang kita mau..” kata Fadil
            Malam itu semua begadang, minum – minuman keras, dan hanya itu yang mereka lakukan setiap harinya.
            Pagi harinya, mereka malah tertidur lelap di ‘basecamp’-nya, dan polisi sudah siap dengan misi pengepungan. Saat fajar menyingsing, para polisi sudah berada di tempat, di markas di mana para Bandit berada.
            “Klekk….klekk…” Suara tarikan pelatuk senjata polisi
            “Rumah ini sudah kami kepung.. menyerahlah, dan tiarap!!!” Polisi memberikan peringatan.
            Dengan mudah polisi menangkap belasan preman, dan di bawa ke kantor Polisi. Salah seorang polisi mengenali wajah si Fadil, dia memperhatikannya yang sangat mirip dengan anak yang dua minggu lalu di tahan di kantor polisi. Dan saat tiba di kantor polisi, Fadil melihat Fadli sedang di mintai keterangan, kebetulan mereka masuk kantor polisi yang sama. Fadil terkejut, begitu pun dengan Fadli, lebih – lebih polisi yang sedang memintai keterang. Semuanya tercangang melihat satu sama lain. Fadil diam saja, tidak menyapa Fadli, dia mempalingkan wajahnya.
            “Mas Fadil…?”  Fadli heran, “kok Mas ada di sini…?” Tanya Fadli.
            “Kamu gak perlu tahu, kenapa Aku ada di sini…”  kata Fadil dengan muka sinis.
            “Heeyy… kok gitu Mas, apa mungkin benar, Mas itu buronan Polisi selama ini?” Tanya Fadli “to the point”. “Aku ke kota mencari Mas Fadil, dan pas di pusat kota Aku melihat banyak foto Mas Fadil yang terpampang di jalan”
            “Dan kenapa kamu bisa di sini, Hhaahh…? Tanya Fadil suara lirih membentak.
            “Aku ini dikira Mas Fadil, wajah kita sama, dan Aku yang jadi korban kesalahpahaman. Dan Itu karena Mas Fadil” terang Fadli. Fadli sangat marah dengan kakaknya, dia berpikir Fadil telah menjadi kerumitan masalah keluarga selama ini.
            “Aku sudah dua minggu di tahan, Aku di mintai keterangan. Dan Aku tidak tahu apa – apa. Bapak sama Ibu mungkin lebih khawatir Mas… sadar  nda sih..? dan apa aja yang Mas lakukan selama di perantauan, jadi preman? Iya?!!” Amarah F adli semakin meluap, matanya memerah.  Fadil tidak terima dengan perkataan Fadli,  seketika dia menarik kerah baju Fadli dan menghajarnya sampai tersungkur. Segara para polisi menghentikan aksi kedua saudara tersebut.
            “ Jaga mulutmu, Bangsaat!!” Bentak Fadil kepada Fadli
            “Sudah, semuanya tenang!!” kata Pak polisi, “Jadi kalian ini kembar? Mana yang Fadil dan mana yang Fadli?” Tanya Pak polisi kebingungan.
            “Sekarang Saya tahu, walau mereka kembar tapi memiliki sedikit perbedaan. Perbedaan itu terletak di leher bagian belakang, dan yang dua minggu lalu kita tangkap itu Fadli, karena Saya yang memintai keterangan. Kita salah tangkap.” kata anggota polisi lainnya, yang sangat teliti dengan nara pidananya. Suasana hening sejenak. Salah seorang polisi mencoba melihat leher kedua saudara tersebut. Dan terbukti, terdapat tanda lahir di lehernya Fadli dan tidak pada lehernya Fadil.
            Do’a Fadli selama ini terkabul, dia dibebaskan. Sementara Fadil, dia harus mendekam di tahanan selama kurang lebih tujuh tahun penjara bersama teman - temannya.
Fadli pulang dengan penuh kekecewaan, dan membawa kabar buruk. Saat mulai petang, dia tiba di rumah, ibunya melihat Fadli dengan wajah kusam, pakaian yang kotor, dan tidak bersepatu.
“Ya Allah Fadli…. Kenapa denganmu, Nak? ada apa sebenarnya? Sudah dua minggu lebih kamu tidak pulang, Ibu khawatir” Tanya Ibu sambil menangis
Fadli masih terdiam, dan enggan untuk menceritakan yang sebenarnya. Dia langsung mandi, meninggalkan ibunya sendirian di ruang tamu, kemudian masuk kamar. Dia tidur untuk menenangkan pikirannya. Dan pagi harinya, dia menceritakan semua yang terjadi yang dia alami, dan yang dia lihat dengan mata kepala sendiri. Kedua orang tuanya ‘shock’ mendengar cerita Fadli. Kedua orang tuanya hanya berharap lindungan Tuhan untuk Fadil. Mereka tidak bisa menjenguk, lantaran tidak ada ongkos untuk ke kota.
Di tahanan Fadil baru merasa sangat bersalah atas semua kelakuannya, dia melupakan nasihat orang tuanya, dia sudah menjadikan malu keluarga, dan melibatkan adiknya dalam kesalahpahaman. Hanya penyesalan yang ada pada dirinya. Dia terlalu ceroboh mengambil keputusan, sampai tidak bisa mengatur emosinya. Saat di perkotaan mencari pekerjaan, namun tidak ada satu pun lowongan kerja, dia frustasi dan mengambil aksi nekad yaitu tindak kriminal. Kini Fadil selalu termenung, memikirkan kedua orang tuanya, menyesali akan perbuatannya. Namun dia sadar bahwa inilah balasan dari semuanya.


….Sekian….

...